plasenta previa
BAB I
Pendahuluan
A. Latar belakang masalah
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (FKUI, 2000).
Menurut Prawiroharjo (1992), plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir (prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa ialah plasenta yang implantasinya tidak normal, rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum.
Plasenta Previa adalah Plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir”. (Wiknjosostro, 2005)
Menurut Prawiroharjo (1992), plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir (prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa ialah plasenta yang implantasinya tidak normal, rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum.
Plasenta Previa adalah Plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir”. (Wiknjosostro, 2005)
B. Tujuan penulisan
Makalah ini selain dibuat untuk meyelesaikan tugas mata kuliah MATERNITAS juga diharapkan mampu memberikan pengertian kepada pembaca tentang kelainan pada ibu hamil yaitu PLASENTA PREVIA. Dan semoga makalah ini mampu di manfaatkan sebaik mungkin dan ilmunya bermanfaat.
BAB II
Pembahasan
A. DEFINISI
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (FKUI, 2000).
Menurut Prawiroharjo (1992), plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir (prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa ialah plasenta yang implantasinya tidak normal, rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum.
Menurut Cunningham (2006), plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim.
“Plasenta Previa adalah Plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir”. (Wiknjosostro, 2005)
B. KLASIFIKASI
· Plasenta Previa otalis, apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta
· Plasenta Previa Parsialis, apabila sebahagian pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta
· Plasenta Previa Marginalis, apabila pinggir Plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan.
· Plasenta Letak Rendah, Plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram. Tali pusat berhubungan dengan Plasenta biasanya di tengah (insersio sentralis). Bila hubungan agak pinggir (insersio lateralis). Dan bila di pinggir Plasenta (insersio marginalis), kadang-kadang tali pusat berada di luar Plasenta dan hubungan dengan Plasenta melalui janin, jika demikian disebut (insersio velmentosa).
Umumnya Plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 10 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Meskipun ruang amnion membesar sehingga amnion tertekan ke arah korion, amnion hanya menempel saja.
Pada umumnya di depan atau di belakang dinding uterus agak ke atas ke arah fundus uteri, plasenta sebenarnya berasal dari sebagian dari janin, di tempat-tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat suatu ruang vena untuk menampu Fungsi plasenta ialah mengusahakan janin tumbuh dengan baik untuk pertumbuhan adanya zat penyalur, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu kejanin dan pembuangan CO2. ng darah yang berasal ruang interviller di atas (marginalis).
Fungsi Plasenta :
· Sebagai alat yang memberi makanan pada janin.
· Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolisme.
· Sebagai alat yang memberi zat asam dan mengeluarkan CO2.
· Sebagai alat pembentuk hormone.
Sebagai alat penyalur perbagai antibody ke janin
C. ETIOLOGI
a. Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup:
1. Perdarahan (hemorrhaging)
2. Usia lebih dari 35 tahun
3. Multiparitas
4. Pengobatan infertilitas
5. Multiple gestation
6. Erythroblastosis
7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya
8. Keguguran berulang
9. Status sosial ekonomi yang rendah
10. Jarak antar kehamilan yang pendek
11. Merokok
2. Usia lebih dari 35 tahun
3. Multiparitas
4. Pengobatan infertilitas
5. Multiple gestation
6. Erythroblastosis
7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya
8. Keguguran berulang
9. Status sosial ekonomi yang rendah
10. Jarak antar kehamilan yang pendek
11. Merokok
b. Menurut Hanafiah (2004) klasifikasi plasenta previa dapat dibedakan menjadi 4 derajat yaitu:
1. Total bila menutup seluruh serviks
2. Partial bila menutup sebagian serviks
3. Lateral bila menutup 75% (bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta).
4. Marginal bila menutup 30% (bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir).
D. GAMBARAN KLINIK
Pendarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam. Sejak kehamilan 20 minggu segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat dari dinding uterus. Pada saat ini dimulai terjadi perdarahan darah berwarna merah segar.
Sumber perdarahan ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagai serabut otot uterus untuk menghentikan perdarahan kala III dengan plasenta yang letaknya normal makin rendah letak plasenta makin dini perdarahan terjadi, oleh karena itu perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai.( Wiknjosostro, 1999 : 368).
E. FAKTOR PREDISPOSISI
Menurut Mochtar (1998), faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan terjadinya plasenta previa adalah:
1. Melebarnya pertumbuhan plasenta:
a) Kehamilan kembar (gamelli).
b) Tumbuh kembang plasenta tipis.
1. Melebarnya pertumbuhan plasenta:
a) Kehamilan kembar (gamelli).
b) Tumbuh kembang plasenta tipis.
2. Kurang suburnya endometrium:
a) Malnutrisi ibu hamil.
b) Melebarnya plasenta karena gamelli.
c) Bekas seksio sesarea.
d) Sering dijumpai pada grandemultipara.
3. Terlambat implantasi:
a) Endometrium fundus kurang subur.
b) Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk blastula yang siap untuk nidasi.
F. PATOFISIOLOGI
Pendarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 10 minggu saat segmen bawah uterus membentuk dari mulai melebar serta menipis, umumnya terjadi pada trismester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan servik menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Pendarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal. (Mansjoer, 2002).
G. PATWAYS
Kehamilan lanjut dan persalinan
Perdarahan
H. KOMPLIKASI
Menurut Roeshadi (2004), kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya plasenta previa adalah sebagai berikut:
1. Pada ibu dapat terjadi:
a. Perdarahan hingga syok akibat perdarahan
b. Anemia karena perdarahan
c. Plasentitis
d. Endometritis pasca persalinan
a. Perdarahan hingga syok akibat perdarahan
b. Anemia karena perdarahan
c. Plasentitis
d. Endometritis pasca persalinan
2. Pada janin dapat terjadi:
a. Persalinan premature
b. Asfiksia berat
a. Persalinan premature
b. Asfiksia berat
I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Wiknjosastro (2005), penatalaksanaan yang diberikan untuk penanganan plasenta previa tergantung dari jenis plasenta previanya yaitu:
a. Kaji kondisi fisik klien
b. Menganjurkan klien untuk tidak coitus
c. Menganjurkan klien istirahat
d. Mengobservasi perdarahan
e. Memeriksa tanda vital
f. Memeriksa kadar Hb
g. Berikan cairan pengganti intravena RL
h. Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus masih premature
i. Lanjutkan terapi ekspektatif bila KU baik, janin hidup dan umur kehamilan < 37 minggu
a. Kaji kondisi fisik klien
b. Menganjurkan klien untuk tidak coitus
c. Menganjurkan klien istirahat
d. Mengobservasi perdarahan
e. Memeriksa tanda vital
f. Memeriksa kadar Hb
g. Berikan cairan pengganti intravena RL
h. Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus masih premature
i. Lanjutkan terapi ekspektatif bila KU baik, janin hidup dan umur kehamilan < 37 minggu
BAB IV
Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1. Pemeriksaan Fisik
I. Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
1. Rambut dan kulit
Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
Laju pertumbuhan rambut berkurang.
Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
Laju pertumbuhan rambut berkurang.
2. Wajah
Mata : pucat, anemis
Hidung
Gigi dan mulut
Mata : pucat, anemis
Hidung
Gigi dan mulut
3. Leher
4. Buah dada / payudara
Peningkatan pigmentasi areola putting susu
Bertambahnya ukuran dan noduler
Peningkatan pigmentasi areola putting susu
Bertambahnya ukuran dan noduler
5. Jantung dan paru
Volume darah meningkat
Peningkatan frekuensi nadi
Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
Diafragma meningga.
Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
Volume darah meningkat
Peningkatan frekuensi nadi
Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal.
Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
Diafragma meningga.
Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
6. Abdomen
Menentukan letak janin
Menentukan tinggi fundus uteri
Menentukan letak janin
Menentukan tinggi fundus uteri
7. Vagina
Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick)
Hipertropi epithelium
Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick)
Hipertropi epithelium
8. System musculoskeletal
Persendian tulang pinggul yang mengendur
Gaya berjalan yang canggung
Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal
Persendian tulang pinggul yang mengendur
Gaya berjalan yang canggung
Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal
A. Khusus
1. Tinggi fundus uteri
2. Posisi dan persentasi janin
3. Panggul dan janin lahir
4. Denyut jantung janin
2. Pemeriksaan Diagnostik
a. USG untuk diagnosis pasti, yaitu untuk menentukan letak plasenta.
b. Pemeriksaan darah: Hb, Ht (Roeshadi, 2004).
a. USG untuk diagnosis pasti, yaitu untuk menentukan letak plasenta.
b. Pemeriksaan darah: Hb, Ht (Roeshadi, 2004).
B. Diagnosa Keperawatan
1. Perfusi jaringan tidak efektif (plasental) b.d. kehilangan darah (hipovolemia).
Tujuan
a. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat menunjukkan
perfusi yang adekuat, dengan kriteria hasil:
· Tanda-tanda vital stabil
· Membrane mukosa berwarna merah muda
· Pengisian kapiler normal (< 2 dtk).
· Haluaran urin adekuat.
· Pernapasan adekuat • Kaji penyebab terjadinya perdarahan (abrasi plasenta, plasenta previa, merokok, penggunaan kokain, PIH (pregnance induced hiertention).
Intervensi
· Kaji secara akurat kemunginan harapan hidup janin, kaji juga kapan menstruasi terakhir ibu, prioritaskan pelaporan yang didapat dari Ultrasound atau riwayat obstetrik.
· Inspeksi keadaan perineum, hitung jumlah dan karkateristik perdarahan.
· Monitor TTV
· Lakukan persiapan prosedur emergency antepartum , partum, seperti terapi oksigen, terapi parenteral IV dan mungkin infuse parallel.
· Catat masukan dan pengeluaran makanan dan minuman.
· Elevasikan ekstremitas bawah untuk meningkatkan perfusi ke aorgan vital dan fetus.
Rasional
· Untuk menetapkan terapi yang sesuai.
· Untuk dapat mencegah komplikasi dari perdarahan.
· Untuk mengetahui perkembangan dari perdarahan yang terjadi oek
· Untuk mencegah komplikasi sedini mungkin.
· Untuk mencegah terjadinya syok hipovolemik.
· Mencegah kekurangan elektrolit, cairan dan nutrisi.
· Agar aliran darah lancer
2. Cemas b.d. perubahan yang menyertai kehamilan.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat:
· Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
· Mempertahankan tindakan yang mengontrol cemas.
· Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi cemas.
Intervensi
· Memonitor faktor risiko dari lingkungan
· Membantu klien mengidentifikasi penyebab cemas yang dialaminya.
· Mengajari klien cara melakukan teknik relaksasi
· Klien dapat menyebtkan penyebab cemas yang sedang di alaminya.
· Memberikan penjelasan kepada klien mengenai kondisi penyakit yang sedang dialaminya.
Rasional
· Mengetahui penyebab utama kecemasan dan dapat segera dilakukan pengobatan.
· Untuk mengontrol terjadinya kecemasan.
· Mengidentifikasi faktor penyebab ketidaknyamanan klien dan dapat dijadikan sebagai fokus utama penangana terhadap kecemasan klien.
· Memberikan informasi sejelasnya kepada klien.
BAB V
Kesimpulan
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (FKUI, 2000). Plasenta Previa dibagi menjadi 4 klasifikasi yaitu Plasenta Previa otalis, apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta,Plasenta Previa Parsialis, apabila sebahagian pembukaan tertutup oleh jaringan Plasenta,Plasenta Previa Marginalis, apabila pinggir Plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan,Plasenta Letak Rendah, Plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. sedang patofisologinya Pendarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 10 minggu saat segmen bawah uterus membentuk dari mulai melebar serta menipis, umumnya terjadi pada trismester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan servik menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Pendarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal.
DAFTAR PUSTAKA
a) FKUI. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Media Aesculapius. Jakarta.
Cunningham, FG, Norman, F, Kenneth, J, Larry, C & Katharine, D 2006, Obstetri williams, Edisi ke 21, EGC, Jakarta.
Cunningham, FG, Norman, F, Kenneth, J, Larry, C & Katharine, D 2006, Obstetri williams, Edisi ke 21, EGC, Jakarta.
b) Mochtar, R.Sinopsis obstetri:obstetri operatif, obstetri sosial. editor, Delfi Lutan Ed.2. EGC Jakarta 1998.
c) Ida bagus gde manuaba. Ilmu kebidanan,penyakit kandungan dan KB untuk pendidikan kebidanan.EGC Jakarta 1998.
d) Sarwono prawiroharjo. Ilmu kebidanan. Editor, Hanifa wiknjosastro. Ed.3 Yayasan Bina Pustaka Jakarta 1999.
e) Sarwono prawiroharjo. Ilmu Kandungan. Editor, Hanifa wiknjosastro. Ed.3 Yayasan Bina Pustaka Jakarta 1997.
Komentar
Posting Komentar